spacer.png, 0 kB
spacer.png, 0 kB
"Meeting the Customers needs and long term partnerships"
Monday, 28 September 2009 01:46

PT Dok Perkapalan Surabaya (Persero) atau DPS, memiliki banyak customer loyal, karena mutu pekerjaannya sesuai harapan customer. Oder kapal baru dan reparasi pun kian meningkat. DPS tergolong sukses dalam menggunakan local content dalam pembangunan kapal-kapalnya.

Sepak terjang PT Dok dan Perkapalan Surabaya (DPS) dalam industri galangan kapal kian diperhitungkan di tingkat regional. Hal tersebut terbaca dari meningkatnya order pembangunan kapal baru dan reparasi kapal, baik dari dalam maupun luar negeri. Satu satu kunci keberhasilan DPS adalah komitmennya untuk terus memenuhi kebutuhan customer sekaligus menjalin long term partnership yang saling menguntungkan dengan customer maupun supplier.

Oleh karena itu wajar jika banyak customer yang merasa puas dan dekat dengan DPS. Tidak sedikit kapal milik customer yang sudah dikerjakan oleh galangan lain, namun karena kurang tuntas dan masih banyak kekurangan lalu direparasi ke DPS, sebagai rumah rujukan bagi kapal sakit.

Hal tersebut menandakan customer mengenal DPS sebagai ahlinya di bidang reparasi, karena mampu mendeteksi permasalahan kapal. Karyawannya terbiasa dengan pekerjaan utak atik kapal. Itulah keunggulan perusahaan pelat merah (BUMN-red) yang berkantor di kawasan Tanjung Perak Surabaya. Tak salah setiap kapal yang dibangun maupun direparasi, kerap dibanjiri pujian.

Contoh saja belum lama ini, salah satu anggota Kotra Korea, J.S Hwang dari DSB Engineering Co.Ltd menyampaikan kekagumannya atas perkembangan galangan kapal di Indonesia, seperti halnya DPS. Di mata dia, galangan kapal di Indonesia saat ini mengalami perkembangan yang sangat bagus dan kualitas produknya juga tidak kalah dengan galangan luar negeri termasuk di Korea. Pihaknya berharap ke depan dapat menjalin kerjasama yang baik dengan DPS apalagi perusahaan tersebut tengah mengerjakan order-order pembuatan kapal pesanan dalam dan luar negeri.  

Sebenarnya kekuatan DPS tidak terlepas dari dukungan sumber daya manusia yang rata-rata expert di bidang galangan kapal dan sarat dengan pengalaman. DPS juga dikenal memiliki peralatan reparasi yang cukup lengkap. Perpaduan antara keahlian dan disiplin, peralatan lengkap, serta pentingnya berorientasi kepada pelanggan, menjadikan nama DPS sulit dilupakan customer. Hal tersebut bukan tidak mungkin menjadi amunisi bagi BUMN yang sebentar lagi memasuki tahun emas ini. "Small is beautiful", mungkin julukan yang pas buat DPS.

Kemudian, ketika Anda memasuki gedung kantor DPS, akan terlihat tagline : meeting the customers needs and long term partnerships. Tulisan tersebut sangat pas dengan kondisi saat ini, dimana personalized customer (menyesuaikan jasa pelayanan sesuai dengan kebutuhan dan preference individu customer), sedang trend. Itu bentuk komitmen bahwa DPS selalu melayani customer sesuai dengan personalisasi customer-nya, yang semuanya berangkat dari satu pemahaman bahwa masing-masing customer mempunyai taste dan preferensi sendiri-sendiri.

Direktur Utama DPS, M. Firmansyah Arifin memahami betul pandangan customer terhadap perusahaan yang dipimpinnya itu. Apalagi sang Dirut adalah karyawan DPS yang menapaki karir dari bawah, yang mengetahui betul bagaimana DPS kini dan apa yang akan dilakukan di masa yang datang.

LOCAL CONTENT

Bagaimana komitmen local content dalam industri galangan kapal ? Menurut Firmansyah, sebenarnya, jauh sebelum adanya Inpres No. 2 tahun 2009 soal Tingkat Kandungan Dalam Negeri (TKDN), DPS sudah lama menerapkan local content dalam pembangunan kapalnya. Ada beberapa order dari luar negeri, yang dibangun dengan menggunakan komponen lokal. "Pada prinsipnya kami sangat mendukung dan sudah melakukan itu," ujar Firmansyah, yang didampingi Direktur Pemasaran, Muhammad Yahya.

Ketika mengikuti tender maupun saat berpartner dengan pihak luar negeri pun, pihaknya mengisyaratkan untuk mengutamakan penggunaan local content. Keuntungan dari local content tersebut kata Firmansyah adalah dari aspek jangka waktu pengadaan, local content jauh lebih cepat dan mudah. Kalau dari sisi harga, tergantung. Kadang-kadang lebih murah atau lebih mahal. Manfaat lain adalah terjadinya network atau sinergi kerjasama yang lebih luas antar industri dalam negeri.

Menurut Firmansyah, kualitas local content sebenarnya bagus. Untuk mencegah keraguan customer DPS di luar negeri, pihaknya kerap mengajak klien ke pabrik yang menyuplai local content tersebut, sehingga mengetahui secara langsung proses dan kualitas komponen yang dipasok ke DPS. Rata-rata kesannya positif dan bahkan ada sebagian customer yang menjadi "jubir" yang mempromosikan local content tersebut di luar negeri.

Sementara itu, Yahya mengatakan, untuk kapal-kapal yang dibangun, kandungan local content-nya mencapai 25-30%. Sementara untuk meningkatkan local content tersebut semuanya banyak tergantung kepada kemampuan dan kesiapan industri penyuplai local content-nya.

Namun demikian di Surabaya, DPS sudah melakukan upaya peningkatan local content, melalui Klaster Industri Perkapalan Surabaya (KIKAS) dimana M. Firmansyah Arifin menjadi sekjennya. Organisasi ini merupakan perkumpulan industri perkapalan termasuk industri penunjangnya seperti perbankan. Melalui wadah ini, DPS melakukan pembinaan kepada supplier komponen lokal ke DPS. "Yang sudah dibuat selama ini adalah rantai kapal. Kami berkewajiban membina industri komponen karena berkepentingan dengan kualitas yang dihasilkan. Mau tidak mau kami harus membina dari bawah," tegas Firmansyah.

BANJIR ORDER KAPAL

Firmansyah mengatakan, tahun 2008, DPS mengerjakan 130 unit reparasi kapal dengan nilai Rp.1,7 miliar - Rp. 1,9 miliar per unitnya. Tahun 2009 DPS menargetkan pencapaian minimal sama dengan tahun lalu. Saat ini DPS mengerjakan empat pesanan kapal yang datang dari PT Pertamina sebanyak dua unit dan dua unit lagi dari sebuah perusahaan di Singapura.

Proyek dari Pertamina adalah kapal berkapasitas 6500 DWT (Dead Weight Ton/ bobot mati) dengan nilai kontrak per kapalnya 15 juta dollar AS. Sedangkan kapal dari Singapura berkapasitas 6300 DWT dengan nilai kontrak masing-masing 10 juta dollar AS. Jadi, total nilai pesanan itu mencapai 50 juta dollar AS.

Tahun 2009 DPS mengalokasikan belanja modal sekitar Rp 30 miliar untuk operasional rutin dan pengadaan beberapa alat. Tahun lalu untuk maintenance-nya dialokasikan Rp 20 miliar. Tahun 2009 diperkirakan sekitar Rp 60 miliar, termasuk yang untuk non rutin. Untuk reparasi, menurutnya tiga bulan di depan selalu sudah penuh. Karena pihaknya tidak mengejar banyaknya unit kapal, tapi nilai kontraknya. 

Ketika ditanya seputar rencana bisnis ke depan, Firmansyah menilai tahun 2009 industri kapal masih dalam kondisi yang baik, asalkan melakukan efisiensi yang baik serta bisa meningkatkan delivery time-nya. Terutama untuk kelas 10.000 DWT ke bawah, diyakini masih banyak pesanan.

Menurutnya ada beberapa faktor yang menjadi hambatan perkembangan industri ini, diantaranya suplai mesin, pelat dan pipa yang cukup banyak penawarannya namun mungkin akan terbebani bea masuk. Bea masuk harga-harga komponen kapal dan Pajak Pertambahan Nilai (PPN) yang selama ini dibebankan pada industri perkapalan di Indonesia sepertinya tetap akan jadi beban pengusaha galangan. Pihaknya menginginkan agar dua hal ini bisa ditanggung pemerintah, sehingga harga kapal produksi dalam negeri lebih kompetitif dibandingkan produk asing.

Dari sisi kinerja DPS mengalami peningkatan. Order kini didominasi oleh pembangunan kapal baru yang mencapai 52% sementara reparasi hanya 48%. Customer baru terus berdatangan, selain terus mempertahankan dan membina hubungan baik dengan customer lama agar tetap loyal. "Kami menjemput bola, selain memperhatikan customer lama", sambung Yahya.

Saat ini kapasitas produksi untuk reparasi adalah sebesar 120 unit per tahun. Bangunan baru setiap tahunnya meningkat 20% terutama pembangunan kapal Tanker (untuk mendukung pengembangan industri migas). Sales DPS meningkat 10% diatas target.

Ke depan, DPS akan merevitalisasi dan meningkatkan kapasitas produksi di DPS Surabaya dan mengembangkan galangan kapal di Lamongan. Pihaknya juga ingin mengembangkan galangan DPS hingga 30.000 DWT. "Mudah-mudahan cita-cita kami tercapai," harap Firmansyah mengakhiri wawancara.

(Kormen, Lutfi - Business Review edisi 06. Tahun 08. September 2009)

 

Last Updated on Monday, 22 February 2010 06:02
 
spacer.png, 0 kB
spacer.png, 0 kB
spacer.png, 0 kB